Nir-Laba dan Berbasis Riset Pilihannya

Gagasan tentang pembentukan ‘wadah’ (baca : organisasi) itu mengawali diskusi-diskusi serupa di setiap kesempatan perjalanan… ataupun di sisi meja makan. Maklumlah… kami berdua saat itu benar-benar memiliki kesempatan banyak untuk saling bertemu muka dalam rangka tugas masing-masing ataupun bersama (maksudnya mengelola kegiatan PHBM dan persiapan ‘3 in 1’ sebagai kelanjutannya). Rasanya kami heran juga… walaupun kami berdua sebenarnya baru bertemu muka dan bertegur sapa kurang dari dua tahun… tapi sudah seperti saudara saja.

Dalam waktu-waktu bertemu berikutnya, topik diskusi yang utama adalah bentuk ‘wadah’ dimaksud… apakah berupa ‘konsultan’ atau dalam bentuk ‘lembaga atau yayasan’. Ide konsultan muncul dalam benak… lebih dikarenakan bersandar pada pengalaman kami selama itu, bahwa posisi sebagai ‘pihak bebas’ diperankan melalui ‘jasa konsultasi’. Akan tetapi pertimbangan lain, bahwa konsultan harus memantapkan diri sebagai ‘profesional’ baik dari sisi ‘capability’ ataupun juga ‘management’. Padahal kami tahu bahwa ‘personal’ dan ‘lembaga’ yang akan dibentuk… harus dipupuk sejak awal. Disamping itu… kami tidak ingin ‘mengotori’ orientasi para anggotanya dengan komersialisasi… yang seringkali tidak bersendikan pada nilai-nilai ‘berbudi’. Terakhir tapi tidak kalah pentingnya… kami berdua tidak ingin membawa pada kesalahpahaman pihak lain, bahwa lembaga itu dibentuk sebagai ‘kepanjangan tangan’ kami berdua dalam ‘mengais rejeki’. Sejujurnya… kami tidak bersombong… kalau untuk memikirkan kami berdua saja, rasanya meski kami berstatus sebagai ‘pegawai negeri’ namun sudah merasa ‘cukup’ dan ‘bersyukur’ atas rejeki dari-Nya.

Akan tetapi, kalau dalam bentuk lembaga atau yayasan kami juga ada kekhawatiran tidak leluasa memulainya. Kekhawatiran tersebut didasarkan pada beberapa pemikiran, yaitu pertama yayasan secara umum bersifat ‘nir-laba’ dan bahkan ada kecenderungan dipandang sebagai organisasi sosial semata, yaitu dalam arti yang lebih ‘sempit’ bersifat ‘membagi-bagi rejeki tanpa pamrih, kecuali menolong masyarakat’. Tetapi bukan itu yang menjadi titik tolak ‘impian’ kami, melainkan suatu organisasi yang ‘mampu berbuat dengan pikiran sehat dan dukungan informasi yang kuat bagi kemaslahatan masyarakat’. Kedua, yang akan menggerakkan roda organisasi adalah ‘kelompok muda’ yang tidak hanya memiliki ‘idealisme’ tetapi juga memiliki ‘masa depannya sendiri’ (keluarga dan anak-anak). Artinya kami perlu mempertimbangkan sejauh mana ‘wadah’ yang akan dibentuk nanti juga mampu memberikan jaminan ketenangan untuk berkreasi, tanpa dibebani dengan permasalahan pribadi.

Sebelum keputusan membentuk wadah diambil, kami mencoba menelusuri ruang lingkup kegiatan yang akan dilakukan oleh ‘wadah’ tersebut. Kami sangat menyadari pada waktu itu, bahwa lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau organisasi non pemerintah (ornop) telah berkembang subur di Indonesia dan bahkan mulai meluas di Samarinda (Kaltim). Bila kami amati, sebagian besar LSM atau ornop yang ada mengkonsentrasikan diri pada ‘pendampingan’ (advocacy) masyarakat. Dalam prakteknya, sebagian bahkan menghasilkan ‘penolakan’ dari pihak-pihak lainnya (khususnya pemerintah dan kalangan pengusaha) akibat dari ‘contrary approaches’ yang sebenarnya mungkin tidak menjadi niatan. Selanjutnya bila kami tengok kembali kebutuhan mereka akan peran dari perguruan tinggi dan atau lembaga-lembaga penelitian adalah ‘data dan informasi’. Padahal hasil-hasil penelitian dari perguruan tinggi atau lembaga penelitian di Indonesia, pada umunya untuk ‘internal services’ di lembaganya sendiri ataupun ‘riset murni’.

Akhirnya kami mengambil ketetapan, bahwa wadah yang akan dibentuk nantinya adalah yayasan yang bersifat ‘nir-laba’ (non-profit). Meskipun demikian penekanan ‘nir-laba’ adalah pada orientasi luasnya yang ‘tidak mencari keuntungan finansial untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya’, tetapi lebih tertuju ‘pada menghasilkan karya nyata untuk seluas-luasnya kepentingan lingkungan dan masyarakat’. Kami berpendapat, bahwa wadah bisa menjadi besar dan keamanan masa depan anggota bisa tercipta dengan sendirinya dengan ‘prestasi’ yang ditunjukkan. Prestasi yang sangat potensial dan sekaligua diperlukan adalah data dan informasi melalui penelitian yang ‘reliable’ serta ‘applicable’. Walaupun demikian, tidak berarti bahwa wadah mengabaikan ‘pendampingan’, tetapi bentuknya adalah ‘research based advocacy’ atau dalam pertimbangan kami itu yang dimaksudkan dengan ‘development’ dalam konteks riset. Kalau boleh kita ambil istilah yang saat ini cukup sering dilontarkan… lembaga yang akan dibentuk saat itu, adalah sebuah ‘LSM Akademik’.