Mempersiapkan ‘Simbol’ Sebaik-baiknya

Setelah ada kemajuan yang berarti kami mulai mencoba untuk mencari ‘simbol-simbol’ penting dari lembaga seperti nama dan lambang. Langkah pertama, yang kami pandang paling mudah adalah mencari ‘nama’. Terus terang, kami tidak sepenuhnya sependapat dengan Shakespeare yang mengemukakan ‘What’s in a name?’ (Apalah artinya sebuah nama?). Menurut kami, nama akan sangat berpengaruh terhadap ‘semangat’ membesarkan nama itu sendiri.

Karena tadinya, dengan mengingat calon anggota lembaga yang berasal dari fakultas kehutanan, titik berat pada ‘social forestry’ (perhutanan social)… kami mencoba untuk mencari ide dari pemikiran tersebut. Akan tetapi dalam diskusi-diskusi berikutnya, antara lain juga dengan dukungan saran dari Dr. Kuswata Kartawinata (Pak Kus) (yang saat itu sudah memulai pindah tugas dari Mac Arthur Foundation di Chichago ke Center for International Forestry Research/CIFOR di Bogor), kami berubah pikiran untuk berbicara lingkungan dan sumberdaya alam secara lebih luas (walaupun tetap berpusat pada hutan sebagai ‘main ecosystem’nya). Entahlah… apakah karena kami teringat bahwa Pak Kus dulu pernah memegang proyek ‘Man and Biosphere’ (MAB), atau karena memang dalam kenyataannya ada dua isu utama yang harus disandang lembaga yang akan bentuk nantinya… ternyata, nama akhir yang terpilih adalah BIOMA. Nama ini memiliki dua arti, pertama ‘Bioma’ sebagai istilah mandiri berarti ‘unsur kehidupan di lingkungan’. Kedua merupakan singkatan dari ‘Biosfera’ (ruang hidup) dan ‘Manusia’ (yang nanti selanjutnya diterjemahkan oleh TH Culhane, teman kami dari California/USA sebagai The Social-Biosphere).

Terkait dengan Pak Kus, sebenarnya beliau sendiri bersedia untuk turut serta menggarap ‘gagasan BIOMA’ tersebut. Akan tetapi tugas-tugas barunya yang pada saat itu selaku Direktur Program Bulungan Research Forest(BRF-ITTO/CIFOR/Dephut), membuatnya tidak hanya memiliki keterbatasan waktu, tetapi juga khawatir ‘over lapping’ kepentingan ataupun ‘conflict of status’. Sebenarnya, ide ‘wadah’ inipun juga pernah kami paparkan dan kami bicarakan dengan Dr. Nengah Wiraawan (Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI waktu itu). Meskipun Pak Nengah mendukung, tetapi punya kendala yang serupa dengan Pak Kus. Apalagi Yayasan KEHATI sebagai mitra dari AusAID melaksanakan program ‘3 in 1’, sehingga salah-salah bisa merepotkan… karena banyak pihak akan mendapatkan BIOMA merupakan ‘Sub-Kontraktor’ atau (lebih kasarnya) ‘lembaga dalam lembaga’ dari Yayasan KEHATI.

Tahap selanjutnya sebelum menyusun ‘lambang’ adalah menguraikan ‘profil’ (kasar) dari gagasan BIOMA. Profil ini menyangkut hal sangat esensial seperti Visi, Misi, Tujuan, Program (ruang lingkup kegiatan) dan Kesekretariatan. Dalam hubungan profil ini, pernah terbersit dalam pemikiran kami untuk menempatkan pusat kegiatan di Bogor (lebih dikarenakan sentralisasi kebijakan saat itu!). Tetapi kemudian, kami berubah pikiran… bahwa dengan pusat di Bogor. Justru akan mempersulit kegiatan. Yayasan BIOMA lebih tepat berpusat di Samarinda, sedangkan yang di Bogor adalah kalau memang nanti terbentuk ‘lembaga lainnya’ (kami memang merealisasikan ‘SKEMA/Pusat Studi Kehutanan Masyarakat di Bogor 1999; tapi hingga sekarang belum berkesempatan memulai aktifitasnya).

Setelah beberapa waktu mematut-matut model lambang, tercetus ide untuk membuat yang sesederhana mungkin, terdiri dari dua komponen utama, Biosfera – Manusia. Ide ini yang kemudian melahirkan ‘usulan lambang’ berbentuk ‘bola dunia dan anggota badan manusia di tengahnya, seperti yang dapat disaksikan dalam lambang BIOMA saat ini. Dengan demikian konsep persiapan pembentukan lembaga sudah cukup lengkap, ada nama, ada profil dan ada lambangnya. Apa yang belum? Komitmen personal dan ‘modal (fasilitas dan dana) awal. Mengenai modal awal dimaksud, bisa kami upayakan… tetapi komitmen personal harus dibicarakan dengan calon-calon anggotanya.