Gagasan Bermula dari Secangkir Kopi

Suatu senja, sekitar awal tahun 1998, sambil menikmati minuman favorit ‘3 in 1’ Indo-Coffe dan kue kecil, kami berdua berbincang-bincang panjang di beranda belakang rumah Sindang Barang (Bogor). Entahlah… apakah karena nikmatnya kopi… atau damainya hati di bawah hijaunya halaman… dari pembicaraan kosong… hingga pembahasan serius tentang masa depan kegiatan yang sedang kami lakukan bersama di Kalimantan Timur, yaitu Proyek Pengelolaan Hutan Berbasiskan Masyarakat (PHBM) serta bahkan kegiatan-kegiatan serupa lainnya.

Proyek yang diddanai oleh the McArthur Foundation berkerjasama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) Indonesia di Jakarta dan Asia Forest Network (AFN) di Berkeley (USA) telah bejalan (dalam format yang baru) selama enam bulan lebih. Akan tetapi dari hasil pemantauan pada awal Januari 1998, dengan adanya kemarau panjang, kebakaran hutan dan lahan (khususnya di Kaltim), serta ditambah dengan krisis moneter yang berkepanjangan, tampaknya mau tidak mau proyek PHBM harus didesain ulang. Hasil desain ulang itu tidaak lagi mencakup hanya empat desa saja tetapi bahkan belasan desa lainnya. Format dan pendekatan kegiatan PHBM juga berubah setelah masuknya Australia Agency for International Development (AusAID), yaitu pelaksanaan kegiatan ‘3 in 1’ (persis Indo-Coffee yang kami minum) berupa pembagian beras, dengan partisipasi pada kegiatan diversifikasi tanaman serta pencegahan kebakaran. Istilah ‘3 in 1’ merupakan gagasan Pak Mas setelah Ismayadi memanggil Pak Nengah untuk membantu membuat proposal yang akan diserahkan kepada AusAID .

Hal yang menjadi bagian dari diskusi sore hari tersebut adalah mengenai pengelolaan kegiatan yang cukup kompleks tersebut, yaitu kebutuhan akan personel-personel yang dapat bekerja tidak saja atas dasar kompetensi individual saja, tetapi juga dapat bekerja serta belajar bersama atas dasar visi dan misi yang sama. Sebenarnya… sepanjang pelaksanaan kegiatan PHBM sebelumnya, kami dibantu oleh beberapa alumni Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman (Fahutan Unmul). Para alumni tersebut meskipun relatif baru menyelesaikan studinya, tetapi telah terbiasa mendukung dan teruji kemampuannya dalam mengikuti berbagai kegiatan penelitian.

Tanpa disadari… keluarlah gagasan yang ternyata telah terpendam dalam diri kami masing-masing sejak lama, yaitu apakah tidak sebaiknya para alumni Fahutan Unmul yang terlibat dalam kegiatan yang sedang dan akan berlangsung ini dihimpun dalam satu wadah atau organisasi. Dalam pemikiran kami saat itu, ada beberapa ‘manfaat’ yang bisa dihasilkan dari mengorganisasikan diri, yaitu : Pertama, idealisme dan spirit untuk maju yang masih ‘segar’ dari para alumni akan segera terwadahi sebelum terlanjur terpolusi atau terkontaminasi oleh hal-hal yang kurang baik. Kedua, dalam bentuk satu organisasi ada jati diri, rasa kebanggaan dan prinsip keadilan serta kesetaraan antar setiap anggota, yang berpartisipasi dalam pencapaian tujuan setiap kegiatan. Ketiga, dalam bentuk organisasi para alumni itu bisa terus belajar, berkarya dan mengembangkan diri (tentu saja baik melalui dukungan kami, ataupun khususnya dengan inisiatif mereka sendiri). Keempat, bila ditinjau dari perkembangan situasi di tanah air, khususnya menyangkut mengenai permasalahan yang terkait dengan degradasi sumberdaya alam dan keterpurukan masyarakat, membuka lebar-lebar ‘tantangan’ di masa depan.

Obrolan dengan secangkir kopi itu akhirnya ditutp dengan kesamaan pendapat, yaitu akan pentingnya ‘wadah’ tapi… belum terpikirkan lebih detil mengenai apapun yang lebih konkrit. Kecuali… kesepahaman, bahwa… ‘this great idea won’t be work unless we do something’. Yakh…, waktu terlampau sempit, dan senja semakin larut, sementara larut, sementara makan malam disambung dengan tugas-tugas lain masih menunggu.