Alhamdulillah Akhirnya BIOMA Lahir

Terus terang saja selama proses yang telah kami uraikan di atas, tidak berarti kami menutup diskusi dan input dengan beberapa alumni Fahutan yang membantu kami saat itu seperti Kamaruddin, Erna, Jaya, Edi, Ibrahim dan Amin (merekalah seingat kami yang pertama kali membantu kami, sebelum selanjutnya bertambah dengan Irawan, Anton, Pajar dan juga Rukmi serta Deborah). Kami sendiri sebenarnya tidak tahu, apa selama itu didiskusikan di antara mereka… yang saat itu masih ‘pada ngumpul’ di salah satu ruangan di Gedung Pascasarjana Ilmu Kehutanan Universitas Mulawarman). Apakah mereka sendiri juga sudah mendiskusikan ‘hal yang sama?’. Bekal nama, profil dan lambang itu kemudian kami berikan kepada mereka untuk diputuskan ‘partisipasi’ dan ‘komitmennya’.

Mungkin ada pertanyaan… seandainya tidak ada di antara mereka yang mau berpartisipasi, apakah gagasan itu dapat diteruskan? Terus terang dalam benak kami waktu itu, tidak ada pemikiran seperti itu. Tetapi kalaupun itu terjadi, gagasan tersebut mungkin terpaksa ditunda. Mengapa? Karena memang gagasan itu dibuat sekali lagi bukan untuk diri atau kebutuhan kami… tetapi untuk ‘mereka’. Kalaupun kemudian mereka perlu terlibat sejak awal, karena memang mereka harus memahami ‘kehidupan organisasi’ sejak awal. Akan tetapi, dalam faktanya akhirnya, mereka sependapat dan bersedia untuk mendukung gagasan tersebut. Oleh karenanya sejak mereka kami minta lebih aktif untuk membahas gagasan tersebut (termasuk nama, profil dan lambang), termasuk mencari informasi mengenai ‘notaris’ bagi persiapan pembentukan Yayasan BIOMA.

Akhirnya… setelah mereka membahasnya sendiri, kami memperoleh komitmen untuk merealisasikan gagasan pembentukan Yayasan BIOMA. Cuma… permasalahan justru ada pada diri kami berdua. Karena kami berdua adalah pegawai negeri, maka untuk mendirikan yayasan menurut notarisnya perlu ada surat persetujuan dari atasan kami. Kondisi ini tampaknya ‘agak’ sulit bagi kami (dengan berbagai alasan yang kami pandang tidak perlu dikemukakan di sini), sementara di sisi lain gagasan dan komitmen tersebut harus segera direalisasikan. Oleh karenanya… akhirnya kami memutuskan tidak perlu jadi ‘pendiri’ secara legal, tapi ‘tut wuri handayani’ saja.

Kami berdua duduk dalam Dewan Penasehat (advisory Board), ditambah dengan dua anggota lainnya yaitu Dr. Apriadi D. Gani (Center for Social Forestry Unmul) dan Ir. Ari Yasir Philipus, M.Agr. (Polytani) dan belakangan atas permintaan BIOMA ikut pula bergabung Dr. Kuswata Kartawinata. Hal penting yang perlu dijelaskan di sini bahwa struktur Dewan Penasehat ini dibentuk, bukan dikarenakan memaksakan wadah bagi kami bedua, tetapi lebih dikarenakan kepentingan perkembangan lembaga yang memiliki visi dan misi yang tidak ringan tersebut, harus ‘linked’ dan/atau menghindarkan ‘gap’ dengan individu/institusi serupa.

Setelah semua persiapan ‘beres’, empat orang personal BIOMA (seingat kami Ibrahim, Jaya, Edi dan Amin) selanjutnya berangkat untuk menandatangani ‘akta pendirian Yayasan BIOMA’ di hadapan notaris. Akekah BIOMA sendiri dilakukan bulan Juni 1998 di TC Pusrehut/Unmul, dihadiri tidak saja oleh seluruh anggota yang sudah ada saat itu, tapi juga oleh rekan-rekan peneliti dari Balai Penelitian Kehutanan Samarinda, dan dari kalangan LSM yang kami harapkan hadir, ada seorang rekan dari SHK Kaltim (Sistem Hutan Kerakyatan). Alhamdulillah, akhirnya gagasan yang dimulai dari secangkir kopi itu akhirnya menjadi kenyataan.